Kamis, 09 Juni 2011

Tidak Disadari, Lisan Juga Bisa Berbuat Syirik



Lebih samar dari jejak semut di atas batu hitam di tengah kegelapan malam








Sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma –yang sangat luas dan mendalam ilmunya- menafsirkan ayat di atas dengan mengatakan,”Yang dimaksud membuat sekutu bagi Allah (dalam ayat di atas, pen) adalah berbuat syirik. Syirik adalah suatu perbuatan dosa yang lebih sulit (sangat samar) untuk dikenali daripada jejak semut yang merayap di atas batu hitam di tengah kegelapan malam.”
Kemudian Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma mencontohkan perbuatan syirik yang samar tersebut seperti, ‘Demi Allah dan demi hidupmu wahai fulan’, ‘Demi hidupku’ atau ‘Kalau bukan karena anjing kecil orang ini, tentu kita didatangi pencuri-pencuri itu’ atau ‘Kalau bukan karena angsa yang ada di rumah ini tentu datanglah pencuri-pencuri itu’, dan ucapan seseorang kepada kawannya ‘Atas kehendak Allah dan kehendakmu’, juga ucapan seseorang ‘Kalau bukan karena Allah dan karena fulan’.
Akhirnya beliau radhiyallahu ‘anhuma mengatakan, ”Janganlah engkau menjadikan si fulan (sebagai sekutu bagi Allah, pen) dalam ucapan-ucapan tersebut. Semua ucapan ini adalah perbuatan SYIRIK.” (HR. Ibnu Abi Hatim) (Lihat Kitab Tauhid, Syaikh Muhammad At Tamimi)
Itulah syirik. Ada sebagian yang telah diketahui dengan jelas seperti menyembelih, bernadzar, berdo’a, meminta dihilangkan musibah (istighotsah) kepada selain Allah. Dan terdapat pula bentuk syirik (seperti dikatakan Ibnu Abbas di atas) yang sangat sulit dikenali (sangat samar). Syirik seperti ini ada 2 macam.
Pertama, syirik dalam niat dan tujuan. Ini termasuk perbuatan yang samar karena niat terdapat dalam hati dan yang mengetahuinya hanya Allah Ta’ala. Seperti seseorang yang shalat dalam keadaan ingin dilihat (riya’) atau didengar (sum’ah) orang lain. Tidak ada yang mengetahui perbuatan seperti ini kecuali Allah Ta’ala.
Kedua, syirik yang tidak diketahui oleh kebanyakan manusia. Syirik seperti ini adalah seperti syirik dalam ucapan (selain perkara i’tiqod/keyakinan). Syirik semacam inilah yang akan dibahas pada kesempatan kali ini. Karena kesamarannya lebih dari jejak semut yang merayap di atas batu hitam di tengah kegelapan malam. Oleh karena itu, sedikit sekali yang mengetahui syirik seperti ini secara jelas. (Lihat I’anatul Mustafid bisyarh Kitabut Tauhid, hal. 158, Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan)

Contoh Lisan yang Terjatuh dalam Kesyirikan: Mencela Makhluk yang Tidak Dapat Berbuat Apa-apa
Perbuatan seperti ini banyak dilakukan oleh kebanyakan manusia saat ini –barangkali juga kita-. Lidah ini begitu mudahnya mencela makhluk yang tidak mampu berbuat sedikit pun, seperti di antara kita sering mencela waktu, angin, atau pun hujan. Misalnya dengan mengatakan, ‘Bencana ini bisa terjadi karena bulan ini adalah bulan Suro’ atau mengatakan ‘Sialan! Gara-gara angin ribut ini, kita gagal panen’ atau dengan mengatakan pula, ‘Aduh!! hujan lagi, hujan lagi’. Lidah ini begitu mudah mengucapkan perkataan seperti itu. Padahal makhluk yang kita cela tersebut tidak mampu berbuat apa-apa kecuali atas kehendak Allah. Mencaci mereka pada dasarnya telah mencaci, mengganggu dan menyakiti yang telah menciptakan dan mengatur mereka yaitu Allah Ta’ala. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Allah Ta'ala berfirman, ‘Manusia menyakiti Aku; dia mencaci maki masa (waktu), padahal Aku adalah pemilik dan pengatur masa, Aku-lah yang mengatur malam dan siang menjadi silih berganti.’ ” (HR. Bukhari dan Muslim). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,”Janganlah kamu mencaci maki angin.” (HR. Tirmidzi, beliau mengatakan hasan shohih)
Dari dalil-dalil ini terlihat bahwa mencaci maki masa (waktu), angin dan makhluk lain yang tidak dapat berbuat apa-apa adalah terlarang. Larangan ini bisa termasuk syirik akbar (syirik yang mengeluarkan seseorang dari Islam) jika diyakini makhluk tersebut sebagai pelaku dari sesuatu yang jelek yang terjadi. Meyakini demikian berarti meyakini bahwa makhluk tersebut yang menjadikan baik dan buruk dan ini sama saja dengan menyatakan ada pencipta selain Allah. Namun, jika diyakini yang menakdirkan adalah Allah sedangkan makhluk-makhluk tersebut bukan pelaku dan hanya sebagai sebab saja, maka seperti ini termasuk keharaman, tidak sampai derajat syirik. Dan apabila yang dimaksudkan cuma sekedar pemberitaan, -seperti mengatakan,’Hari ini sangat panas sekali, sehingga kita menjadi capek’-, tanpa tujuan mencela sama sekali maka seperti ini tidaklah mengapa.

Perbaikilah Diri

Jarang sekali manusia mengetahui bahwa hal-hal di atas termasuk kesyirikan dan kebanyakan orang selalu menyepelekan hal ini dengan sering mengucapkannya . Padahal Allah Ta’ala telah berfirman yang artinya,”Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik, dan dia mengampuni dosa yang berada di bawah syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. (QS. An Nisa [4]: 116).

Oleh karena itu, sangat penting sekali bagi kita untuk mempelajari aqidah di mana perkara ini sering dilalaikan dan jarang dipelajari oleh kebanyakan manusia. Aqidah adalah poros dari seluruh perkara agama. Jika aqidah telah benar, maka perkara lainnya juga akan benar. Jika aqidah rusak, maka perkara lainnya juga akan rusak.

Hendaknya pula kita memperbaiki diri dengan selalu memikirkan terlebih dahulu apa yang kita hendak ucapkan. Ingatlah sabda Nabi yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam,”Boleh jadi seseorang mengucapkan suatu kata yang diridhai Allah namun tidak ia sadari, sehingga karena ucapannya ini Allah mengangkat derajatnya. Namun boleh jadi seseorang mengucapkan suatu kata yang dimurkai Allah dan tidak ia sadari, sehingga karena ucapannya ini Allah memasukkannya dalam neraka.” (HR. Bukhari)

Jika kita sudah terlanjur melakukan syirik yang samar ini, maka leburlah dengan do’a yang pernah diucapkan Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam

’Allahumma inni a’udzubika an usyrika bika sya’an wa ana a’lamu wa astaghfiruka minadz dzanbilladzi laa a’lamu’
(Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan menyukutakan-Mu dengan sesuatu padahal aku mengetahuinya. Aku juga memohon ampunan kepada-Mu dari kesyirikan yang tidak aku sadari) (HR. Ahmad).
***
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel http://pengusahamuslim.com

Sabtu, 04 Juni 2011

Menuntut Ilmu Syariat


writing_tablet

Oleh: Abu Muhammad Farhan

Ali bin Abi Thalib mengatakan, “Cukup sebagai kemulian ilmu, orang yang bodoh pun mengaku-aku memilikinya dan senang disebut sebagai seorang yang berilmu. Cukup pula celaan terhadap kebodohan, orang yang bodoh sekalipun menghindar dan berlepas diri darinya serta akan marah apabila dikatakan sebagai orang yang bodoh” [diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam kitab Hilyatul Auliya].
Demikian adanya, ilmu memiliki kedudukan yang sangat tinggi bahkan mutlak diperlukan dalam kehidupan ini. Dari sinilah orang rela mengorbankan harta, waktu, dan tenaganya demi mendapatkan ilmu.
Di samping itu, banyak sekali keutamaan ilmu yang disebutkan di dalam dalil-dalil baik dalam Al-Qur`an maupun dalam hadits. Nah, pertanyaannya, ilmu apakah yang dimaksud di dalam dalil-dalil tersebut? Jawabannya tersirat dalam hadits:
إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ إِنَّ الأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوْا دِيْنَارًا وَلاَ دِرْهَمًا إِنَّمَا وَرَّثُوْا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَ بِهِ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ
“Sesungguhnya para ulama merupakan pewaris para Nabi, dan para Nabi tidak mewariskan dinar, tidak pula dirham. Akan tetapi, mereka mewariskan ilmu, maka barangsiapa mengambilnya, berarti dia telah mengambil bagian yang banyak.” [H.R. Muslim]. Ilmu apakah yang diwariskan oleh Nabi? Jawabannya tentu saja bukanlah ilmu dunia. Ilmu yang mereka bawa adalah ilmu syar’i. Inilah yang dipuji di dalam banyak dalil. Maka dari itu, ulama mengatakan bahwa jika disebutkan ilmu saja, tanpa ditambahi kata di belakangnya, maka yang dimaksud adalah ilmu syar’i.
Sangat disayangkan, hakekat ini sekarang menjadi terbalik. Di mana, kebanyakan dari kita memahami ilmu sebagai ilmu dunia: ilmu matematika, teknik, biologi, fisika, dst. Sedangkan ilmu syar’i hanyalah sebagai tambahan semata. Bahkan, sebagian orang berpandangan bahwa agama bukanlah ilmu. Maka, beberapa lembaran kecil di tangan para pembaca sekalian ini akan berusaha mengungkap beberapa hal mengenai ilmu syar’i disebabkan urgensitas seorang insan akan hal tersebut. Wa billahit taufiq.
Hukum Belajar Ilmu Syar’i
Pembaca sekalian -semoga Allah merahmati kita semua- apabila mencari harta dunia yang sementara harus dengan ilmu, maka mencari akhirat yang kekal tentu lebih wajib. Dunia dan akhirat hanya didapat dengan ilmu, tidak dengan yang lain. Oleh sebab itu, Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang menurunkan kitab-kitab-Nya dan mengutus para rasul untuk mengajarkan ilmu demi keselamatan dan kebahagiaan hamba di dunia dan di akhirat. Kemudian, karena kasih sayang Allah pula, Allah mewajibkan menuntut ilmu atas hamba-Nya. Agar mereka benar-benar selamat dan bahagia dengan mengikuti kitab dan rasul-Nya. Melalui lisan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, Allah mewajibkan thalabul ilmi:
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
Menuntut ilmu wajib atas setiap muslim” [H.R. Ibnu Majah dan lainnya dari sahabat Anas bin Malik dan dishahihkan oleh al-Albani di dalam Shahih Tarhib wat Targhib].
Ilmu di sini -sebagaimana telah lewat penjelasannya- maksudnya adalah ilmu syar’i, bukan yang lainnya. Ibnul Qoyyim menerangkan yang dimaksud ilmu adalah firman Allah, sabda Rasulullah, dan penjelasan para sahabat. Atau dengan bahasa lain, ilmu yang wajib dipelajari oleh setiap hamba adalah bagaimana hamba mengenal Allah kemudian mentauhidkan-Nya dalam seluruh sifat yang khusus bagi Allah, mengenal Rasul-Nya, mengenal agama Islam ini dengan dalil-dalilnya, demikian pula tata cara shalat, dan ibadah-ibadah wajib yang lainnya sehingga tidaklah dia melakukan suatu ibadah kecuali telah dilandasi ilmu mengenai ibadah tersebut. Hanya dengan ilmu inilah seseorang bisa selamat dan berbahagia dunia dan akhirat.
Sumber Ilmu
Al-Qur`an dan Sunnah (hadits) Nabi-Nya adalah sumber ilmu syariat yang utama. Allah berfirman:
وَأَنْزَلَ اللَّهُ عَلَيْكَ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَعَلَّمَكَ مَا لَمْ تَكُنْ تَعْلَمُ وَكَانَ فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكَ عَظِيمًا (١١٣)
Allah telah menurunkan kitab dan hikmah kepadamu, dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui. Dan karunia Allah sangat besar atasmu.” [an-Nisa:113]. Imam Syafi’i menafsirkan “hikmah” adalah sunnah (hadits).
Allah berfirman pula:
قُلْ أَطِيعُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ الْكَافِرِينَ (٣٢)
Katakanlah, ‘Taatilah Allah dan Rasul-Nya, lalu jika kalian berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir.’” [Ali Imran: 32]. Ayat-ayat yang semakna dengan ayat ini banyak sekali.
Kemudian, kita harus memahami dan mengamalkan dua sumber ini sebagaimana yang pemahaman dan pengamalan para sahabat. Karena, mereka lah murid-murid langsung Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka menyaksikan turunnya wahyu, bertanya langsung kepada beliau, dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat dalam keadaan ridha kepada mereka. Sehingga, dapat dipastikan pemahaman dan amalan mereka adalah benar. Allah berfirman:
وَالسَّابِقُونَ الأوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ (١٠٠)
“Orang-orang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar” [at-Taubah:100]
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewasiatkan:
عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِيْ وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ مِنْ بَعْدِيْ، عَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ
“Wajib atas kalian berpegang teguh dengan sunnahku (hadits) dan sunnah (jalan yang ditempuh) Khulafaur Rasyidin setelahku. Gigitlah dengan geraham kalian (pegang erat-erat)” [H.R. at-Tirmidzi dari sahabat ‘Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ’anhu dan dishahihkan oleh al Albani rahimahullah]. Dalil yang semakna dengan ini banyak sekali.
Kemudian, tidak kalah pentingnya bahwa semua itu harus dengan bimbingan para ulama yang Allah telah mempercayakan agama ini kepada mereka. Allah berfirman,
وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ إِلا رِجَالا نُوحِي إِلَيْهِمْ فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ (٤٣)
“Maka bertanyalah kepada para ulama jika kalian tidak mengetahui” [an-Nahl:43]
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menyatakan bahwa para ulama adalah pewaris para nabi sebagai pencerah bagi umat dengan ilmu warisan tersebut, dalam sabda beliau:
إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ وَإِنَّ الأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلاَ دِرْهَمًا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ
Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sedangkan pra nabi tidaklah mewariskan harta dunia tetapi mewariskan ilmu. Siapa yang mengambilnya benar-benar telah mengambil bagian yang banyak” [H.R. Abu Dawud, at-Tirmidzi dan lainnya dari sahabat Abud Darda` radhiyallahu ’anhu dan dihasankan oleh al-Albani]
Jadi, jelaslah bahwa metode pembelajaran kita seharusnya adalah Al-Qur`an dan Sunnah dengan pemahaman dan pengamalan para sahabat beserta bimbingan  para ulama bukan dipahami sendiri atau dengan pemahaman orang-orang tertentu saja.
Antara Wajib ‘Ain dan Wajib Kifayah
Pembaca sekalian -semoga Allah merahmati kita semua- ilmu agama yang kita pelajari ini ada yang hukumnya wajib ‘ain (wajib atas setiap pribadi muslim dan muslimah) dan ada yang wajib kifayah.
Adapun yang hukumnya wajib ‘ain, Imam Ahmad telah menjelaskannya ketika ditanya mengenai ilmu yang wajib dipelajari seorang muslim, “Ilmu yang bisa menegakkan agama seseorang seperti shalatnya dan puasanya” dan tentu sebelum itu bagaimana mengenal Allah beserta hak-hak-Nya (tauhid), rukun iman, rukun Islam, dan ilmu-ilmu yang dibutuhkan lainnya. Misalnya, seseorang yang hendak menunaikan haji maka menjadi wajib ‘ain baginya mempelajari manasik haji begitu seterusnya.
Yang kedua, menuntut ilmu yang hukumnya wajib kifayah, artinya wajib atas kaum muslimin secara kolektif, apabila sebagian mereka telah melakukannya menjadi gugur kewajiban tersebut bagi yang lainnya, namun apabila tidak ada seorang pun yang melakukannya, seluruhnya mendapatkan dosa, seperti: ilmu waris, bahasa Arab, dan ilmu yang sekiranya bisa dicukupi oleh sebagian kaum muslimin. Allah berfirman:
فَلَوْلا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ (١٢٢)
Seandainya ada tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka dapat menjaga dirinya” [at-Taubah: 122].
Niat
Sebagaimana ibadah yang lain, menuntut ilmu syariat harus diniati dengan ikhlas untuk Allah subhanahu wa ta’ala, untuk menghilangkan kebodohan dari dirinya dan orang lain, agar bisa beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala serta mengagungkan-Nya dengan sebenar-benarnya. Dan Allah ta’ala telah mengancam dengan adzab yang pedih bagi mereka yang tidak ikhlas.
إِنَّ أَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ ثَلاَثَةٌ: -أحد منهم- رَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ وَعَلَّمَهُ وَقَرَأَ الْقُرْآنَ فَأُتِىَ بِهِ، فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا. قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا؟ قَالَ: تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ وَعَلَّمْتُهُ وَقَرَأْتُ فِيكَ الْقُرْآنَ. قَالَ: كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ عَالِمٌ وَقَرَأْتَ الْقُرْآنَ لِيُقَالَ هُوَ قَارِئٌ، فَقَدْ قِيلَ. ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِىَ فِى النَّارِ.
“Orang pertama yang akan dihukum pada hari kiamat ada tiga golongan: -salah satunya adalah- seseorang yang mempelajari dan mengajarkan ilmu serta membaca al-Qur`an. Dia pun dihadapkan [ke hadapan-Nya], lalu Allah mengingatkannya terhadap nikmat tersebut dan dia mengakuinya. Kemudian Allah mengatakan, ‘Apa yang engkau perbuat dengan nikmat tersebut?’ Dia pun menjawab, ‘Ya Allah, saya mempelajari dan mengajarkan ilmu serta membaca al-Qur`an karena Engkau.’ Dijawab, ‘Engkau dusta, engkau mempelajarinya agar disebut ‘Orang yang berilmu’, dan engkau membaca al-Qur`an agar disebut ‘Orang yang banyak membaca al-Qur`an’ dan itu telah disebutkan [di dunia].’ Maka orang tersebut diseret di atas wajahnya kemudian dilemparkan ke dalam neraka.” [H.R. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu].
Keutamaan Menuntut Ilmu Syar’i
Allah melimpahkan berbagai keutamaan bagi penuntut ilmu syari semenjak dari terbetik dalam hatinya kemudian melangkahkan kakinya sampai akhirnya ia menghadap Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan
مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَبْتَغِيْ فِيهِ عِلْمًا سَلَكَ اللهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ وَإِنَّ الْمَلاَئِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ وَإِنَّ الْعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِى السَّمَوَاتِ وَمَنْ فِى الأَرْضِ حَتَّى الْحِيْتَانُ فِى الْمَاءِ وَفَضْلُ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ. إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ إِنَّ الأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوْا دِيْنَارًا وَلاَ دِرْهَمًا إِنَّمَا وَرَّثُوْا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَ بِهِ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ
“Barangsiapa menempuh jalan untuk menuntut ilmu maka Allah akan mudahkan jalan baginya menuju surga, dan seeungguhnya para malaikat meletakkan sayapnya karena ridha terhadap penuntut ilmu. Sungguh, seorang yang berilmu dimintakan ampun oleh semua yang ada di langit dan di bumi sampai pun ikan di lautan. Keutamaan orang yang berilmu dibandigkan dengan ahli ibadah sebagaimana perbandingan antara bulan purnama dengan bintang-bintang. Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi, sedangkan para nabi tidaklah mewariskan harta dunia, tetapi mereka mewariskan ilmu, siapa yang mengambilnya, sungguh telah mengambil bagian yang banyak.” [H.R. at-Tirmidzi dari Abud Darda` radhiyallahu ’anhu]
Sebagai bentuk keutamaan ilmu, Ibnul Qoyyim rahimahullah dalam kitab beliau Miftah Daris Sa’adah menyebutkan lebih dari 150 keutamaan ilmu.
Bagaimana dengan selain ilmu syar’i?
Adapun selain ilmu syar’i, hukum mempelajarinya ada yang wajib kifayah, sunnah, mubah (boleh), ada pula yang haram.
Adapun yang hukumnya wajib kifayah, itu adalah ilmu yang berkaitan dengan kebutuhan pokok manusia, artinya kehidupan manusia tidak bisa tegak kecuali dengannya, misalnya: ilmu-ilmu pokok kedokteran, pertanian, industri sandang, dan yang lainnya.
Adapun yang hukumnya haram adalah ilmu yang mengandung kemaksiatan, seperti: ilmu kalam atau filsafat, ilmu sihir, ramalan dan semacamnya.
Sedangkan yang hukum asal mempelajarinya mubah adalah ilmu-ilmu selain yang telah kita sebutkan di atas. Contohnya, ilmu arsitektur, ilmu ekonomi, ilmu biologi, dan lainnya. Akan tetapi, ilmu-ilmu yang mulanya berhukum mubah ini hukumnya bisa berubah sesuai dengan niat, tujuan, cara, akibat, dan keadaannya. Sebagai misal, ilmu teknik bisa menjadi berhukum wajib kifayah jika untuk membangun bangunan tahan gempa bagi kaum muslimin di daerah rawan gempa (dan hal ini menjadi wajib ‘ain bagi seseorang jika hanya dia yang mampu untuk mempelajarinya); atau bisa menjadi sunnah apabila niatnya untuk membangun masjid dengan konstruksi tahan gempa di daerah rawan gempa. Sebaliknya, apabila mempelajari ilmu tersebut untuk kesombongan, status, prestise dan lain-lain, maka hukumnya haram. Demikian pula apabila mempelajari ilmu tersebut dengan cara yang melanggar syariat, sebagai contoh, campur baur antar laki-laki dan perempuan, maka hukumnya menjadi haram. Begitu juga jika hal itu berakibat menyibukkan dari ilmu yang wajib (syar’i), atau melalaikan dari shalat berjamaah maka hukumnya menjadi haram.
Penutup
Pembaca sekalian -semoga Allah merahmati kita semua-, sebagai penutup tulisan ringkas ini, penulis mengajak diri penulis pribadi kemudian pembaca sekalian untuk mementingkan ilmu syar’i kemudian diamalkan dan diajarkan kepada orang lain sebelum mempelajari ilmu lainnya. Inilah jalan keberuntungan.
وَالْعَصْرِ (١)إِنَّ الإنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (٢)إِلا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (٣)
“Demi masa.*. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,*. Kecuali orang-orang yang beriman, mengerjakan amal shalih, saling menasehati dengan kebenaran, dan saling menasehati dengan kesabaran.” [al-‘Ashr 1-3].
Ditafsirkan oleh ulama, orang-orang yang beriman adalah mereka yang berilmu dahulu kemudian beriman, karena seseorang tidak mungkin beriman dengan benar kecuali setelah berilmu. Allahu a’lam.


Sumber : http://tashfiyah.net/?p=81

THE PROPHETIC BEAUTY


Here is a condensed recollection, a kind of verbal icon, of that Prophetic صلي الله عليه وسلم . (It’s paraphrased from a passage by Imam Al Ghazali, in book 19 of his Revival of the religious sciences, ihya ulumuddin) “The Messenger of Allah صلي الله عليه وسلم was the mildest of men, but also the bravest and most just of men. He was the most restrained of people; never touching the hand of a woman over whom he did not have rights, or who was not his mahrom. He was the most generous of men, so that never did a gold or silver coin spend the night in his house. If something remained at the end of the day, because he had not found someone to give it to, and night descended, he would go out, and not return home until he had given it to someone in need. From what Allah gave him, he would take only the simplest and easiest foods: dates and barley, giving anything else away in the path of Allah. Never did he refuse a gift for which he was asked. He used to mend his own sandals, and patch his own clothes, and serve his family, and help them to cut meat. He was the shyest of men, so that his gaze would never remain long in the face of anyone else. He would accept the invitation of a freeman or a slave, and accept a gift, even if it were no more than a gulp of milk, or the thigh of a rabbit, and offer something in return. He never consumed anything given in sadaqa (endowment). He was not too proud to reply to a slave, or a pauper in rags. He would become angered for his Lord, never for himself; he would cause truth and justice to prevail even if this led to discomfort to himself or his companions. He used to bind a stone around his waist out (because) of hunger. He would eat what was brought, and would not refuse any permissible food. If there were dates without bread, he would eat, if there was rough barley bread, if there was only yogurt, he would be quiet satisfied with that. He was not sated, even with barley bread, for three consecutive days, until the day he met his Lord, not because of poverty, or avarice, but because he was contented.”
“He would attend weddings, and visit the sick, and attend funerals, and would often walk among his enemies without a guard. He was the most humble of men, and the most serene, without arrogance. He was the most eloquent of men. He was afraid of nothing in this world. He would wear a rough Yemeni cloak, or a wooden tunic; whatever was lawful and was to hand, that he would wear. He would ride whatever was to hand: sometimes a horse, sometimes a camel, sometimes a mule, sometimes a donkey. And at time he would walk, (never) without head cover or a turban or a cap. He would visit the sick even if they were in the farthest part of Medina (the city where the Prophet lived). He loved perfumes, and disliked foul smells.”
“He maintained affectionate and loyal ties with his relatives, but without preferring them to anyone who was superior to them. He never snubbed anyone. He accepted the excuse of anyone who made an excuse. He would joke, but would never say anything that was not true. He would laugh, but not uproariously. He would watch permissible games and sports, and would not criticize them. He ran races with his wives. Voices would be raised around him, and he would be patient. He kept a goat, from which he would draw milk for his family. He would walk among the fields of his companions. He never despised any pauper for his poverty or illness; neither did he hold any king in awe simply because he was a king. He would call rich and poor to Allah, without distinction.”
“In him, Allah combined all noble traits of character; although he neither read nor writes, having grown up in a land of ignorance and deserts in poverty, as a shepherd, and as an orphan with neither father nor mother. But Allah Himself taught him all the excellent qualities of character, and praiseworthy ways, and the stories of the early and the later prophets, and the way to salvation and triumph in the hereafter and to joy and detachment in the world, and how to hold fast to duty, صلي الله عليه وسلم .


(taken from the book "Islam,and the Glorious Ka'bah" )

Jumat, 03 Juni 2011

Menerima Kebenaran dari Orang Kafir dan Ahli Bid’ah



Tanya:
Apakah pendapat orang kafir—juga ahli bid`ah—harus ditolak secara mutlak? Bolehkah mengambil kebenaran dari mereka?
Jawab:
Allah Ta’ālā berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُونُواْ قَوَّامِينَ لِلّهِ شُهَدَاء بِالْقِسْطِ وَلاَ يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلاَّ تَعْدِلُواْ اعْدِلُواْ هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُواْ اللّهَ إِنَّ اللّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa. Dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Māidah)Termasuk keadilan yang sangat utama adalah mengatakan kebenaran sebagai kebenaran dan menerimanya. Dari manapun datangnya. Sekalipun dari musuh dan orang yang dibenci. Serta mengatakan kesalahan sebagai kesalahan dan menolaknya. Dari manapun datangnya. Sekalipun dari sahabat dan orang yang dicintai. Demikianlah manhaj dan sunnah Nabi ` beserta para Sahabat. Inilah keadilan yang mungkin sangat sulit direalisasikan pada zaman ini, dimana semangat fanatisme kelompok (hizbiyyah) tengah melanda banyak kaum muslimin.
Disebutkan bahwa Yahudi mendatangi Nabi ` dan berkata, “Kalian melakukan kesyirikan dan menjadikan tandingan-tandingan bagi Allah!” Nabi ` bertanya, “Mengapa bisa demikian?” Yahudi menjawab, “Kalian berkata, ‘Demi Ka’bah!’ Dan kalian juga berkata, ‘Atas kehendak Allah dan kehendak Fulan!’” Maka Nabi ` memerintahkan kepada para Sahabat apabila bersumpah agar mengucapkan: ‘Demi Rabb Ka’bah!’ Serta agar mereka mengatakan: ‘Atas kehendak Allah kemudian atas kehendakmu.”” [Riwayat an-Nasā’i VII/6/3773 dan lain-lain. Dinyatakan valid oleh Syaikh al-Albāni]
Disebutkan pula bahwa seorang rahib Yahudi pernah mendatangi Nabi ` dan berkata, “Wahai Muhammad, sesungguhnya kami mendapati bahwa Allah menjadikan (dalam riwayat lain: menahan) seluruh langit atas satu jari, seluruh bumi atas satu jari, pepohonan atas satu jari, air dan tanah atas satu jari, dan seluruh makhluk atas satu jari, lalu Dia berkata, ‘Akulah Sang Raja!’” Maka tertawalah Nabi ` sampai tampak geraham beliau karena membenarkan ucapan rahib tadi. Kemudian beliau membaca firman Allah:
وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَالْأَرْضُ جَمِيعاً قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّماوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ
“Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya, padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha suci Dia lagi maha tinggi dari apa yang mereka persekutukan.” (QS.Az-Zumar: 67) [Riwayat al-Bukhāri IV/1812/4553, dari Ibn Mas’ūd]
Demikian pula terdapat kisah masyhur dari Abū Hurairah yang diajari oleh setan untuk membaca Ayat Kursi sebelum tidur agar mendapat penjagaan dari Allah sampai pagi hari. Ketika ia menyampaikan hal tersebut kepada Nabi `, beliau berkata, “Dia jujur mengabarkan kebenaran kepadamu, padahal ia (setan itu) adalah pendusta.” [Riwayat al-Bukhari secara mu’allaq II/812/2187, dan disambungkan oleh an-Nasā’i, al-Ismā’ili dan Abū Nu’aim, sebagaimana disebutkan oleh Ibn Hajar dalam Fathu’l Bārī. Lihat: Mafātīhu’l Fiqh fi’d Dīn hal. 99]
Diriwayatkan dari ‘Ali Ibn Abī Thālib, bahwa beliau berkata,
لاَ تَعْرِفِ الْحَقَّ بِالرِّجَالَ اعْرِف الْحَقّ تَعْرِفْ أَهْلَه
“Janganlah mengenal kebenaran itu berdasarkan individu-individu tertentu. Kenalilah kebenaran itu niscaya engkau akan mengenal pemiliknya.” [Ihyā' 'Ulūmi'd Dīn, vol. I, hal. 53]
Dari Ibn Mas’ūd, beliau berkata,
مَنْ جَاءَكَ بِالْحَقِّ فَاقْبَلْ مِنْهُ وَإِنْ كَانَ بَعِيْدًا بَغِيْضًا وَمَنْ جَاءَكَ بِالْبَاطِلِ فَارْدُدْ عَلَيْهِ وَإِنْ كَانَ حَبِيْبًا قَرِيْبًا
“Barangsiapa yang datang kepadamu dengan kebenaran maka terimalah kebenaran itu darinya, meskipun ia adalah orang yang jauh dan dibenci. Dan barangsiapa yang datang kepadamu dengan kebatilan maka tolaklah, meskipun ia adalah orang yang dicintai dan dekat.” [Lihat: Shifah ash-Shafwah, vol. I, hal. 419; dan al-Fawā’id, hal. 148]
Beliau juga berkata,
الْحَقّ ثَقِيْلٌ مَرِيْءٌ وَالْبَاطِلُ خَفِيْفٌ وَبِيْءٌ
“Kebenaran itu berat namun berakibat baik, sedangkan kebatilan itu ringan namun berakibat buruk.” [Shifah ash-Shafwah, vol. I, hal. 419-420]
Imam asy-Syāfi`i berkata, “Tidaklah seseorang bersikeras menentangku dan menolak kebenaran melainkan ia jatuh dalam pandanganku, sedangkan tidaklah seseorang menerima kebenaran tersebut melainkan aku menghormatinya dan yakin untuk mencintainya.” [Siyar A’lām an-Nubalā’, vol. X, hal. 33]
Syaikh Ibn `Utsaimin berkata, “Apa yang dikatakan oleh Syaikhu’l Islām adalah benar, yakni bahwa kita (harus) menerima kebenaran dari kelompok manapun, baik dari Mutashawwifah (kaum Sufi), pelajar fiqh maupun ulama syariah. Adapun kita tidak menerima apapun dari mereka dan mengatakan bahwa segala sesuatu yang mereka lakukan adalah kesalahan, maka hal ini tidak benar. Dahulu, Imam Ahmad (terkadang) duduk kepada sebagian kaum Sufi untuk melembutkan hati beliau. Artinya, pada kaum Sufi terdapat hal-hal berupa pelembutan hati dan keberpalingan dari dunia yang tidak terdapat pada selain mereka…. Ambillah kebenaran dari insan manapun itu, baik dari kaum Sufi, pelajar fiqh atau selain mereka!
Kemiripan sebagian umat ini terhadap Yahudi dan Nasrani adalah, bahwa ulama syariah memandang kaum Sufi tidak ada apa-apanya, sementara kaum Sufi juga memandang bahwa ulama syariah tidak ada apa-apanya.
Mengenai perkara belajar dan berguru (ta`līm) kepada kaum Sufi, maka bisa jadi hal itu membuat mereka (semakin) terperosok dan menjadikan mereka terus bertahan di atas hal-hal (kesalahan) yang mereka lakukan, dan sekaligus juga dapat membuat orang lain terperdaya dan berkata, “Fulan (saja) belajar dan mengambil ilmu dari Sufi….”
Adapun menerima kebenaran, maka terimalah kebenaran dari insan manapun, bahkan dari Yahudi, Nasrani, setan atau orang-orang musyrik sekalipun.”
Sekian kutipan dari Syaikh. [Lihat Fathu’l Mu`īn fi’t Ta`līq `alā Iqtidhā’ish Shirāthi’l Mustaqīm, hal. 32.]
Menolak kebenaran termasuk kesombongan (kibr). Padahal, sekecil dzarrah dari kesombongan menyebabkan pelakunya tidak masuk surga. Nabi ` bersabda,
لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ. قالَ رَجلٌ: إنَّ الرّجلَ يُحبُّ أنْ يَكوْنَ ثوْبُه حسنًا ونَعْلَه حَسَنَةُ. قال: إنّ اللهَ جَمِيْلٌ يُحِبّ الجَمالَ، الْكِبْر بَطَرُ الْحَقّ وَغَمْطُ النّاس
“Tidak masuk surga orang yang dalam hatinya memiliki semisal dzarrah dari kesombongan.” Ada yang bertanya, “Sesungguhnya ada orang yang suka mengenakan baju dan pakaian yang bagus.” Nabi ` menjawab, “Sesungguhnya Allah itu maha indah dan menyukai keindahan. (Yang dimaksud dengan) kesombongan adalah menolak kebenaran dan melecehkan manusia.” [Riwayat Muslim I/93/91, Abū Dāwūd II/457/4092, dan lain-lain]
Kesombongan inilah yang menyebabkan Iblis dikeluarkan dari surga karena menolak perintah sujud kepada Adam. Iblis menolak kebenaran bahwa Adam diciptakan dengan sebaik-baik penciptaan (QS. At-Tīn: 4) dan justru melecehkan Adam melalui ucapannya:
أَنَا خَيْرٌ مِّنْهُ خَلَقْتَنِي مِن نَّارٍ وَخَلَقْتَهُ مِن طِينٍ
“Aku lebih baik darinya; Engkau ciptakan aku dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah!” (QS. Al-A’rāf: 12 dan Shād: 76)
Pada umumnya, tidaklah seseorang itu menolak kebenaran melainkan karena ia melecehkan atau berburuk sangka. Ia menganggap bahwa dirinya lebih dari orang lain, baik dari sisi kecerdasan, kedudukan, harta dan sebagainya, atau ia merasa bahwa orang lain hanyalah penebar kesesatan dan syubhat sementara dirinya lebih mendapat hidayah dalam perkara kebenaran yang ditolaknya. WaLlāhu’l musta’ān.

Sumber : 

Dijawab oleh Ustadz Adni Kurniawan, Lc.
Artikel www.Salafiyunpad.wordpress.com

Rabu, 01 Juni 2011

SIAPAKAH ULAMA


siapakah_ulamaSyaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz rahimahullah berkata, Sudah amat jelas bahwa para ulama adalah pewaris para nabi dan para ulama adalah pengganti mereka. Cukup bagi kita keutamaan para ulama yang disebutkan oleh Allah Ta’ala, yaitu Allah menyatakan bahwa mereka bersama malaikat-Nya mengakui keesaan-Nya.
Allah Ta’ala berfirman,
شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
Allah menyatakan bahwasanya tidak ada ilah (sesembahan) melainkan Dia (yang berhak disembah), yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada ilah melainkan Dia (yang berhak disembah), yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Ali Imran: 18)
Sudah dimaklumi bahwa kata ulama jika disebut dalam Al Qur’an dan sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka yang dimaksud adalah ulama yang mengenal Allah dan syari’at-Nya. Mereka itulah yang mengambil ilmu dari Al Qur’an dan As Sunnah. Juga mereka mengambil ilmu dari kaedah yang menjelaskan perihal syari’at. Inilah yang dimaksud dengan ulama jika disebut dalam Al Qur’an dan sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam atau disebut dalam perkataan ulama syari’at lainnya.
Di sana ada istilah ulama lainnya yaitu bagi orang yang berilmu dalam kesehatan, geografi dan ilmu lainnya yang dibutuhkan manusia. Orang seperti ini memiliki keutamaan tergantung niatan mereka dan manfaat yang mereka berikan pada manusia. Namun sekali lagi, jika istilah ulama itu dimutlakkan dalam Al Qur’an, sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam atau disebut dalam perkataan ulama syari’at lainnya, maka yang dimaksud adalah ulama yang paham akan Al Qur’an dan hadits Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam.“ [Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 23/197]
Dari penjelasan Syaikh Ibnu Baz rahimahullah di atas menunjukkan bahwa ulama adalah orang yang paham akan Al Qur’an dan hadits Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seorang dokter, insinyur, pakar geografi, mereka juga adalah orang yang berilmu (baca: ulama). Namun mereka bukanlah yang mendapatkan pujian sebagaimana disebut dalam ayat di atas. Keutamaan mereka adalah jika mereka memanfaatkan ilmu dunia yang mereka geluti untuk kemaslahatan umat. Dari sini juga kita dapat pahami bahwa jika dalam Al Qur’an dan hadits disebut ilmu dan mendapat pujian orang yang berilmu, maka yang dimaksud adalah ilmu agama dan bukan ilmu dunia.
Semoga faedah ilmu yang kami peroleh sore ini bermanfaat bagi kita sekalian. Semoga Allah selalu menganugerahkan kita ilmu yang bermanfaat dalam setiap hela nafas kita.



After ‘Ashar @ Sakan 27 of KSU, Riyadh-KSA, 27 Jumadats Tsaniyyah 1432 H (30/05/2011)

source : www.rumaysho.com

Selasa, 31 Mei 2011

Jagalah Masa Mudamu




Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga dan sahabatnya dan para pengikutnya
Sejarah telah mencatat dengan tinta emasnya para pemuda  yang telah mengisi lembaran hidupnya dengan prestasi gemilang,  sehingga mulia dihadapan Allah dan juga mulia dihadapan manusia. Mereka diantaranya sepreti  Ibrahim, Yusuf, Musa ‘alaihimus salam serta ashaabul kahfi sebagaimana kisah mereka telah disebut dalam al Qur’an. Allah berfirman tentang ashaabul kahfi,
إِذْ أَوَى الْفِتْيَةُ إِلَى الْكَهْفِ فَقَالُوا رَبَّنَا آتِنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَداً
(Ingatlah) tatkala para pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua, lalu mereka berdo’a: “Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini). (QS. Al- Kahfi: 10)
Begitu juga di permulaan lembaran sejarah Islam, yang tak kosong dari catatan kehidupan pemuda-pemuda pilihan, sebut saja Mush’ab bin Umair radhiyallahu ‘anhu(duta Rasulullah pertama di Madinah) , Abu Ubaidah bin Jarrah radhiyallahu ‘anhu (orang kepercayaan umat ini) dan yang lainnya.
Sebelum Engkau Menyesal
Banyak hadist dari Rasulallah yang menunjukan betapa pentingnya masa muda. Diantaranya adalah sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam,
Gunakanlah lima perkara sebelum terjadi lima perkara: Masa mudamu sebelum tiba masa tuamu, masa sehatmu sebelum tiba masa sakitmu, masa lapangmu sebelum tiba masa sibukmu, masa kayamu sebelum masa miskinmu dan masa hidupmu sebelum tiba masa ajalmu1
Masa muda adalah masa yang penuh dengan berbagai warna bagi setiap anak manusia. Masa transisi dimana seorang pemuda berusaha  mencari jati dirinya. Dan juga merupakan masa keemasan bagi setiap orang untuk mengukir prestasi dalam lebaran hidupnya. Namun disayangkan, tak sedikit juga yang telah menghancurkan hidupnya dengan menyia-nyiakan masa tersebut, kehilangan jati dirinya dimasa muda dan berujung  penyesalan di masa tua.
Sebagaimana dikatakan dalam sebuah syair,
ألا ليت الشباب يعود يوماً *** فأخبره بما فعل المشيب
Sekali-kali tidak, andaikata masa muda itu berulang barang satu hari saja
Akan aku beritahukan penyesalan orang-orang (tua) yang telah beruban2

Jangan hanya berangan
Masa muda, perahu untuk menuju kesuksesan di hari tua. Jangan engkau sia-siakan! Dan jangan pula hanya engkau isi dengan angan-angan kosong! Berangan untuk selalu hidup bahagia tanpa perjuangan, sebagaimana perkataan sebagian orang “kecil manja-manja, muda foya-foya , tua kaya-raya, mati masuk surga”!??
Setiap kesuksesan memiliki jalan untuk mencapainya. Jika engkau ingin cerdas maka rajinlah belajar, jika engkau ingin kaya maka rajinlah berkerja, jika engkau ingin masuk surga maka tempuhlah jalannya. Sangat aneh jika seseorang ingin sukses tetapi  tidak mengempuh jalannya atau malah menempuh jalan sebaliknya. Alangkah indahnya untaian sya’ir imam asy Syafii rahimahullah dalam diwannya,
تَبْغي النَّجَاةَ وَلَمْ تَسْلُكْ طَرِيقَتَهَا ** إنَّ السَّفِينَةَ لاَ تَجْرِي عَلَى اليَبَسِ
Engkau mengendaki kesuksesan namun engkau tidak menempuh jalannya..
Sesungguhnya perahu tidak berjalan diatas padang pasir3
Jagalah masa mudamu
Jagalah masa mudamu, karena engkau akan ditanya tentangnya. Engkau akan ditanya tentang setiap hal yang telah engkau kerjakan di masa muda, sebagaimana sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam,
لا تزول قدم العبد فى يوم القيامة حتى تسئل عن اربع عن عمره فيم افناه وعن شبابه فيم ابلاه وعن ماله من اين اكتسبه وفيم انفقه وعن علمه ماذا عمل به
Takkan bergeser kedua kaki manusia pada hari kiamat sampai selesai ditanya tentang empat perkara: tentang umurnya, untuk apa dihabiskan; tentang masa mudanya, untuk apa dipergunakan; tentang hartanya, dari mana diperoleh dan untuk apa dibelanjakan; dan tentang ilmunya, apa yang sudah diperbuat dengannya.4
Jagalah masa mudamu dengan berhias ibadah kepadaNya
Saudaraku, jangan tertipu dengan banyaknya pemuda yang tenggelam dalam syahwat dunia di zaman kita ini. Hiasilah dirimu dengan ibadah kepada Tuhanmu. Apakah engkau tidak ingin menjadi salah satu orang yang mendapat naungan dari Allah di hari kiamat kelak? Dari Abi Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ الْإِمَامُ الْعَادِلُ وَشَابٌّ نَشَأَ بِعِبَادَةِ اللَّهِ ..
Tujuh golongan yang akan mendapat naungan Allah Ta’ala pada hari yang tidak ada naungan kecuali naunganNya: Imam yang adil, pemuda yang tumbuh dalam beribadah kepada Allah..5

Isilah masa mudamu dengan mencari ilmu
Selain amal shalih, sebaik-baik bekal yang harus dipersiapkan seorang pemuda adalah ilmu. Karena ilmulah yang akan menerangi kehidupan seseorang. Ilmu akan mengantarkan seseorang kepada pemahaman yang benar terhadap agamanya . Dimana kepahaman terhadap agama merupakan salah satu  tanda kebaikan pada seseorang, sebagaimana Rasulullah bersabda,
مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِيْ الدِّيْن
“Barangsiapa dikehendaki baginya kebaikan oleh Allah, Maka Dia akan memberikan pemahaman agama kepadanya.”6
Hendaknya kita isi masa muda kita dengan mencari ilmu. Jangan sampai kita sibuk dengan hal lain yang melalaikan dari ilmu. Jangan sampai juga kita putus asa karena merasa berat menuntut ilmu, semua butuh perjuangan. Tidak heran jika al Imam asy Syafi’i rahimahullah sampai mengatakan,
مَنْ لَمْ يَذُقْ مُرَّ التَّعَلُّمِ سَاعَةً          تَجَرَّعَ ذُلُّ الْجَهْلِ طُوْلَ حَيَاتِهِ
وَ مَنْ فَاتَهُ التَّعْلِيْمُ وَقْتَ شَبَابِهِ         فَكَبِّرْ عَلَيْهِ أَرْبَعًا لِوَفَاتِهِ
Barangsiapa yang tidak pernah mencicipi pahitnya belajar
Maka dia akan meneguk hinanya kebodohan di sepanjang hidupnya
Barangsiapa yang tidak menuntut ilmu di masa muda
Maka bertakbirlah empat kali, karena sungguh dirinya telah wafat7

Jagalah waktumu karena ia tidak akan berulang
Waktu, salah satu ni’mat yang dianggap sepele dan sering dilalaikan oleh kebanyakan manusia khususnya para pemuda. Dalam hal ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Ada dua ni’mat yang dilalaikan oleh manusia, manusia tertipu dengan nikmat tersebut: yaitu nikmat sehat dan waktu kosong.” 8
Jangan sampai kita hanya menghabiskan waktu kita hanya untuk hal-hal yang sia-sia seperti menonton bola, kongkow-kongkow, dan perbuatan sia-sia lainnya. Isilah waktu-waktu yang kita miliki untuk belajar, untuk menghafalkan Al-Qur’an dan hadist, untuk berdakwah dan hal-hal lainnya yang bermanfaat.

Semoga bermanfaat, Sholawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulallah serta keluarga dan sahabatnya.



Selesai ditulis di Riyadh, 5 Rabi’ul Awwal 1432 H (8 Februari 2011)
Abu Zakariya Sutrisno
Artikel: www.thaybah.or.id / www.ukhuwahislamiah.com
Maraji’:
[1].  HR. Al-Hakim, Baihaqi, Ibnu Abi’ddunia, Ibnul-Mubarrak
[2].  Sya’ir ini disebutkan dalam kitab Tuhfatus Saniyah bi Syarhil Muqadimah aj Jurumiyah (cet. Makt.Hira’ hal 83)
[3].  Lihat dalam diwan imam asy Syafi’i bagian kumpulan qosidah yang diakhiri huruf syin (س).
Adapun lafadz dalam diwan abu Athahiyah : ترجو النجاة و لم تسلك مسالكها *** إن السفينة لا تجري على اليبس
[4].  HR. At-Tirmidzi no.2417, dan beliau berkata: “hadits hasan shahih”, dan diriwayatkan dari shahabat Abu Barzah Nadhlah bin ‘Ubaid Al-Aslami, dan dikeluarkanAl-Khathib dalam kitab Iqtidha’ Al-Ilmi wal Amal. Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih At-Tirmidzi 2417, beliau juga berkata dalam Ash-Shahih Al-Jami’ hadits no. 7300: “shahih”, dan dalam As-Silsilah Ash-Shahihah hadits no. 946
[5].  HR. Bukhari: no. 1432 dan Muslim no. 1031
[6].  Diriwatkan oleh sahabat Muawiah, muttafaqun ‘alaihi. Bukhari no.71 dan Shahih Muslim no.1037
[7]. Diwan al Imam asy Syafi’i
[8].  HR. al-Hakim yang telah dishahihkan Syaikh al-Albani dalam kitab Al-Jami’



Sumber : http://thaybah.or.id/remaja/jagalah-masa-mudamu.html

Sabtu, 28 Mei 2011

Bahaya Bepergian Ke Negara Kafir


Penulis: Asy Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al Fauzan
Alhamdulillah segala puji bagi Allah yang telah memuliakan kita dengan Islam. Dan yang memerintahkan kita semua untuk komitmen dengan Islam hingga kita sampai ke Darussalam ( negeri keselamatan di akherat ). Dan saya bersaksi bahwasannya tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata yang tiada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya segala kekuasaan dan bagi-Nya segala pujian dan Dialah Dzat yang maha mampu atas segala sesuatu. Dan saya juga bersaksi bahwasannya Muhammad adalah hamba-Nya dan Rosul-Nya. Beliau telah memperingatkan kita selaku ummatnya dari segala sesuatu yang mendatangkan madhorot (bahaya) terhadap agama kita atau yang mengancam kemuliaan agama kita, baik berupa ucapan ataupun perbuatan, agar dengan agama ini, kita menjadi mulia di dunia dan bahagia di akherat. Sholawat serta salam semoga Allah senantiasa limpahkan kepada Nabi yang mulia yang tidak meninggalkan satu kebaikan kecuali beliau telah menunjuki ummatnya pada kebaikan tersebut. Dan tidak ada kejelekan satupun kecuali beliau telah memperingatkan darinya sebagai bukti kasih sayang beliau dan sebagai bentuk nasehat beliau kepada ummat ini. Semoga Alloh membalasi untuk beliau dari Islam dan kaum muslimin berupa sebaik-baik balasan dari balasan para nabi. Amma ba’du :
Wahai segenap manusia bertaqwalah kalian kepada Allah dan jagalah agama kalian. Wahai kaum muslimin sesungguhnya kalian telah mengetahui bahwa pada masa-masa ini terdapat gelombang kekafiran, penyimpangan dan rendahnya akhlak dan jeleknya perilaku yang menimpa Negara-negara luar negeri yang kafir. Adanya kekafiran pada Negara-negara tersebut amatlah nyata dan kerusakan padanya telah merata. Berbagai macam minuman keras, zina dan adanya prinsip bebas serta berbuat sekehendaknya dan seluruh perkara yang haram, kesemuanya itu merupakan menu harian tanpa penghalang  dan pembatas. Apabila keadaannya demikian dan bahkan lebih dari sekadar itu maka safar ( bepergian ) ke negara-negara yang demikian adalah sangat berbahaya bagi agama.
Sementara perkara yang paling berharga bagi seorang muslim adalah agamanya, lantas kenapa ia meski menghadapkan dirinya kepada perkara yang sangat berbahaya. Sekiranya seseorang itu memiliki harta dan ia mendengar bahwa  hartanya itu terancam suatu bahaya yang bisa melenyapkan hartanya itu, maka kamu akan lihat orang itu akan berusaha dengan sangat berhati-hati untuk menjaga hartanya. Maka bagaimana bisa kalau ia melihat bahwa harta itu lebih besar di pandangan matanya sementara itu ia menganggap sepele dan remeh agamanya  ?! berkata sebagian salaf :  “ Apabila kamu berhadapan dengan ancaman bahaya maka dahulukan ( korbankan )  hartamu bukan dirimu. Jika masih saja ada ancaman bahaya tersebut maka dahulukan ( korbankan ) dirimu bukan agamamu. … ya, yang wajib saat itu adalah mengorbankan dirinya jangan agamanya. Untuk itulah disyariatkan jihad yang ada padanya bunuh membunuh, hal itu dalam rangka menjaga agama. Karena manusia apabila hilang agamanya maka hilanglah segala-galanya. Dan apabila ia peduli menjaga agamanya maka ia pasti diberi kebahagiaan dan kesuksesan didunia maupun akherat.
Wahai kaum muslimin. Sesungguhnya safar ke negeri kafir terkhusus dizaman ini yang penuh dengan berbagai macam fitnah adalah tidak boleh kecuali pada keadaan tertentu yang sampai pada tingkat terpaksa dengan tetap berupaya menjaga diri dan berhati-hati dan menjauhi tempat-tempat kerusakan. Sehingga sekiranya seorang muslim tinggal disana maka sekadar karena terpaksa dengan tetap ia menampakkan ( menjalankan) agamanya, tetap menjaga sholat pada waktunya dan tidak berbaur dengan masyarakat yang rusak serta pergaulan teman yang jelek.  Manakala seorang muslim berupaya menjaga kemuliaan agamanya maka hal itu akan menambah kemulian bagi dirinya dan ketinggian bahkan dihadapan orang-orang kafir sekalipun. Sesungguhnya seorang muslim dalam membawa agamanya yang agung ini adalah mencakup seluruh kandungan maknanya yang baik dan perilaku yang terpuji. Benar dalam aqidah, bersih dalam keinginan, lurus jalan yang ditempuh , jujur dalam muamalah, tinggi diatas semua agama yang lain, sempurna dalam akhlak . Seorang muslim adalah seorang yang membawa agama yang sempurna yang Allah telah pilihkan untuk penduduk bumi semuanya hingga tegaknya yaumul qiyamah. Seorang muslim adalah orang yang menjadi contoh yang benar untuk kesempurnaan manusiawi. Sesungguhnya agama selain Islam adalah kerendahan dan mengembalikan manusia kepada kedudukan yang rendah dan celaka. Maka wajib bagi setiap muslim apabila terpaksa safar ke negeri-negeri kafir untuk membawa agama ini dengan sepenuh kenampuan, dan menampakkannya dengan berani dihadapan musuh-musuhnya yang mereka tidak mengerti hakekat agama ini, dengan tampilan yang sesuai sehingga iapun menjadi contoh yang baik bagi yang lainnya.
Sesungguhnya mayoritas orang yang pergi ke negeri-negeri tersebut (sangat disayangkan) justru menjadikan kesan yang jelek terhadap Islam dengan serbab perbuatan mereka dan polah tingkah mereka. Mereka menjadikan jelek dihadapan orang-orang yang tidak mengerti hakekat islam. Dan mereka menghalangi orang yang ingin mengerti dan mau masuk islam ketika melihat polah tingkah mereka yang membikin orang lari dari islam karena menyangka bahwa berarti islam identik dengan mereka ini.
Wahai kaum muslimin sesungguhnya pada negeri-negeri kafir terdapat fenomena peradaban yang palsu dan  mendorong dan menyeru pada fitnah yang menipu orang-orang yang lemah iman hingga hatinya pun terdecak kagum dan menganggap besar negara-negara kafir tersebut beserta penduduknya,  dan pandangannyapun  menilai rendah negara-negara islam dan kaum muslimin. Karena mereka melihat sebatas penampilan luar dari fenomena yang ada, tidak lagi melihat hakekat permasalahan. Maka negara-negara kafir itu walaupun sekiranya memakai sebuah penampilan gemerlap yang berkilau yang menipu namun penduduknya adalah orang-orang yang kehilangan sesuatu yang paling mulia yaitu agama yang benar, yang dengannya akan tenang dan tentram hati mereka, bersih jiwa mereka, terjaga kehormatan dan darah mereka dan terlindungi harta mereka. Sungguh mereka telah kehilangan itu semua maka apa gunanya fenomena kemajuan peradaban yang imitasi tersebut? aqidah mereka salah dan keliru, kehormatan mereka menjadi hina keluarga-keluarga mereka berantakan lantas apa guna penampilan bangunan yang mentereng seiring dengan rusaknya jati diri mereka selaku manusia ?
Wahai kaum muslimin : sesungguhnya musuh-musuh kalian membikin rencana-rencana untuk merampas harta-harta kalian dan merusak agama kalian dan untuk bisa mengatur kalian.  Allah Ta’ala berfirman :
وَدَّ كَثِيرٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُمْ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّارًا حَسَدًا مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّ
“ Sebahagian besar ahli kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. ( Al Baqarah : 109 )
مَا يَوَدُّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَلَا الْمُشْرِكِينَ أَنْ يُنَزَّلَ عَلَيْكُمْ مِنْ خَيْرٍ مِنْ رَبِّكُمْ
“ Orang-orang kafir dari ahli kitab dan orang-orang musyrik tiada menginginkan diturunkannya sesuatu kebaikan kepadamu dari Tuhanmu. ( Al Baqarah : 105 ) (foot note : 2)
وَلَا يَزَالُونَ يُقَاتِلُونَكُمْ حَتَّىٰ يَرُدُّوكُمْ عَنْ دِينِكُمْ إِنِ اسْتَطَاعُوا
“Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup”. ( Al Baqarah : 217.)
وَدُّوا لَوْ تَكْفُرُونَ كَمَا كَفَرُوا فَتَكُونُونَ سَوَاءً
“Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka). ( An Nisa’ : 89 )
Sesungguhnya apabila kalian bepergian kepada mereka di negara-negara mereka maka mereka semakin memiliki peluang untuk menyimpangkan kalian dan menceburkan kalian dengan berbagai cara dan perantara hingga mereka mampu mencabut agama dari diri kalian atau setidaknya melemahkan agama pada diri kalian. Sungguh mereka menyebarkan promosi seruan kepada para pemuda muslimin di berbagai mas media koran dan majalah berupa pemgumuman tentang kemudahan mengadakan tour perjalanan wisata kenegara-negara mereka. Dan mereka menyiapkan bagi para pengunjung dari kaum muslimin berbagai sajian yang menipu mereka…. Yang tujuan mereka adalah merusak para pemuda dan menenggelamkan mereka dalam lautan syahwat selayaknya hewan sehingga nantinya  mereka kembali kenegeri muslim dengan membawa oleh-oleh kerusakan dan kehancuran maka orang-orang kafirpun semakin memiliki kesempatan menguasai kaum muslimin melalui tangan-tangan anak-anak muslimin sendiri. ( Na’udzubillah min dzalik)
Wahai segenap kaum muslimin, sungguh termasuk perkara yang sangat menyedihkan  dimana bepergian ke Negara-negara kafir telah menjadi kebanggaan sebagian kaum muslimin yang tertipu. Maka seorang diantara mereka bangga bahwa ia akan dikirim ke amerika atau anaknya akan belajar ke amerika atau ke london atau perancis. Ia bangga hal tersebut, tanpa berfikir akibat dibelakangnya. Dan tanpa memperhatikan berbagai bahaya yang mengancamnya yang akan mengoyak agamanya. … sebagian kaum muslimin bepergian bersama keluarganya untuk tinggal disana selama musim panas atau untuk rekreasi. Tanpa memandang lagi kepada hukum syareat tentang hukum bepergian tersebut apakah boleh ataukah tidak ? kemudian apabila mereka telah pergi kesana lantas meleburlah kepribadian mereka dengan orang-orang kafir. Seperti memakai pakaiannya mereka …. kalau sedemikian itu terjadi, sehingga menyebabkan adanya perubahan gaya penampilan luar lalu (apakah merasa aman ) dengan adanya perubahan bathinnya. Sungguh seorang muslim dituntut untuk senantiasa bertaqwa kepada Allah dimana saja berada dan untuk berpegang teguh serta komitmen dengan agamanya dan tidak takut akan celaan orang yang suka mencela dikala ia berjalan diatas jalan agama Allah. Kenapa mesti merasa rendah dengan agamanya ? sementara Islam adalah agama yang penuh kemuliaan dan ketinggian didunia dan akherat.
وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَلَٰكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَا يَعْلَمُونَ
” Padahal kemuliaan itu hanyalah milik Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui.” ( QS. Al Munafiqun : 8 )
Sesungguhnya perilaku orang-orang kafir itu serta sikap mengikuti mereka adalah kehinaan, kerendahan dan kekurangan. Lantas kenapa seorang muslim mencari pengganti dan menukar suatu yang telah baik dengan sesuatu yang rendah dan jelek. Bagaimana bisa dia berganti posisi dari kemuliaan kepada kehinaan.. .. Termasuk perkara yang mengherankan adalah bahwa orang-orang kafir itu apabila datang ke negara-negara muslim mereka tidak merubah penampilan mereka dan tidak mengganti keadaan mereka, tetap sebagaimana sebelumnya. Sementara kita ( orang islam ) sebaliknya apabila kita pergi kepada mereka maka mayoritas kita berubah dari kebiasaan sebelumnya kepada kebiasaan orang kafir dalam hal berpakaian dan yang lainnya, sebagian orang beralasan bahwa kalau dia tidak demikian dia takutkan dirinya atau hartanya untuk diganggu. Ini merupakan alasan yang tidak bisa diterima. Karena kita lihat orang-orang yang tetap pada penampilan pakaian mereka semula dan menjaga kemulian agamanya merekapun tetap kembali dalam keadaan mereka penuh kemuliaan mereka tidak mendapat gangguan apapun. ( barang siapa yang bertaqwa kepada Allah maka Allah jadikan baginya solusi jalan keluar baginya). Kalau sekiranya diterima alasan tersebut yang ternyata adalah alasan dari sebagian orang tidak diperhitungkan, maka tentu tidak bisa diterima kalau dari orang yang mereka memiliki kedudukan sebagai penanggung jawab dan orang yang keberadaannya sebagai orang yang dihormati oleh negara-negara, kalau seiring dengan itu mereka tetap merubah penampilan pakaian mereka …. Sungguh itu adalah sikap taqlid buta dan sikap tidak mau peduli. Laahaula walaa quwwata illaa billahil ‘aliyyil ‘adzim.
Wahai segenap kaum muslimin : sesungguhnya bahaya bepergian ke negara-negara kafir sangat besar dan kerusakannya adalah amat banyak. Siapa yang bepergian ke negara-negara tersebut tanpa karena keadaan terpaksa hanya sekedar keinginan nafsu, sementara kecondongannya nafsu itu mengajak kepada yang jelek dan mengikuti orang yang tidak pantas untuk diikuti, maka dengan hal itu ia pantas untuk dihukum dan ditimpa musibah pada agamanya. Ada sebahagian orang mengirim anak-anaknya yang masih muda atau sebagian mereka membolehkan untuk mengirim mereka ke negara-negara kafir untuk belajar bahasa atau yang lainnya disana tanpa berfikir akibatnya dan tidak mempertimbangkan dampaknya, tanpa ada rasa takut kepada Alloh yang memberinya tanggung jawab terhadap anak-anaknya tersebut. Apabila anak-anak muda itu tetap berada dalam keadaan rawan dan bahaya disaat mereka masih tinggal di negeri-negeri kita sendiri yaitu ditengah-tengah kaum muslimin, lalu bagaimana lagi kalau mereka dikirim ke negara-negara kafir dan mereka hidup di sarang-sarang kerusakan dan komunitas kekafiran ? sungguh para pemuda dari anak-anak kita yang dikirim yang terbenam ditengah-tengah komunitas kafir untuk hidup tinggal lama bersama mereka disana, maka bisa dibayangkan bagaimana keadaan pemuda asing ditengah-tengah orang kafir ? apa yang akan tinggal dan tersisa pada dirinya dari agama dan akhlaknya ? maka bertaqwalah kalian kepada Allah tentang tanggung jawab terhadap anak-anak kalian janganlah engkau menghancurkan mereka dengan alasan mereka nanti akan belajar disana, padahal sungguh belajar itu bisa dilakukan disini dinegeri sendiri. Maka seperti bahasa bisa dipelajari disini tanpa harus berhadapan dengan bahaya.
Sementara pada bidang tertentu yang khusus maka tidak dikirim kesana kecuali orang-orang yang telah berumur dan orang yang kokoh aqidah mereka dan kuat akal mereka dengan disertai pantaun yang ketat terhadap mereka. Maka agama ini adalah perkara yang lebih pokok dari seluruh harta. maka adakah sesuatu yang tersisa setelah hilangnya agama. Bertaqwalah kepada Allah wahai segenap muslimin dan bersyukurlah atas pemberian Allah kepada kalian berupa nikmat yang paling besar yaitu nikmat Islam maka janganlah kalian menghadapkan pada sesuatu yang bisa menjadi sebab hilangnya nikmat ini. Jagalah agama kalian sehingga menjadikan terjaganya segala urusan kalian “ dan bertaqwalah kepada Allah sesungguhnya Allah maha mengetahui terhadap apa yang kalian amalkan”
Saya berlindung kepada Allah dari syaithon yang terkutuk.
وَلَا تَرْكَنُوا إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ وَمَا لَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنْ أَوْلِيَاءَ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ
“ Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim, yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolongpun selain daripada Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan.” (QS. Hud : 113)
( Diterjemahkan oleh Al-Ustadz Muhammad Rifai dari kumpulan khutbah Asy Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al Fauzan (Al Huthob Al Mimbariyyah 2/156)
—————————————————————————————————————————————-
1)  Allah Ta’ala  berfirman tentang kehidupan orang-orang kafir :
وَالَّذِينَ كَفَرُوا يَتَمَتَّعُونَ وَيَأْكُلُونَ كَمَا تَأْكُلُ الْأَنْعَامُ وَالنَّارُ مَثْوًى لَهُمْ
“ dan orang-orang kafir bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang. dan Jahannam adalah tempat tinggal mereka.” ( QS. Muhammad : 12 )
Dan janganlah kita tertipu dengan segala polah tingkah mereka dinegeri mereka, Allah berfirman :
لَا يَغُرَّنَّكَ تَقَلُّبُ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي الْبِلَادِ .مَتَاعٌ قَلِيلٌ ثُمَّ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ ۚ وَبِئْسَ الْمِهَادُ
Janganlah sekali-kali kamu terperdaya oleh kebebasan orang-orang kafir bergerak di dalam negeri. ( yakni kelancaran atau kemajuan peradaban dan perdagangan serta dunia mereka ) Itu hanyalah kesenangan sementara, kemudian tempat tinggal mereka ialah Jahannam; dan Jahannam itu adalah seburuk-buruknya tempat. ( Ali Imran :196 – 197).
2) Allah Ta’ala  berfirman
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِنْ دُونِكُمْ لَا يَأْلُونَكُمْ خَبَالًا وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ ۚ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الْآيَاتِ ۖ إِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُونَ
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya. ( Ali Imran :118)
Sumber: http://darussalaf.or.id

Sumber : http://abufadhilblora.wordpress.com/