Senin, 20 Juni 2011

Mari berbincang Sejenak

Saudaraku … Aku yakin Engkau sangat menginginkan kebaikan dalam hidupmu.Tidaklah mungkin Engkau menginginkan keburukan menimpamu.
Setiap orang tentu mengharapkan kebaikan untuk hidupnya di dunia, lebih-lebih di akhirat kelak. Aku pun yakin, Engkau senantiasa berdoa siang dan malam demi kebaikan dirimu, ”Wahai Tuhan kami, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta selamatkanlah kami dari siksa neraka”.

Kebahagiaan Sejati Terletak pada Ilmu Syar’i
Namun, tidakkah Engkau tahu, bahwa kebaikan dan kebahagiaan dunia itu ada di dalam ilmu? Ketika menafsirkan firman Allah ta’ala,
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً (٢٠١)
”Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia” (QS. Al Baqoroh : 201), Al-Hasan Al Bashri rahimahullah (murid dari ‘Aisyah radliallahu ‘anha) berkata,”kebaikan di dunia adalah ilmu dan ibadah”. Dan ketika menafsirkan firman Allah ta’ala yang artinya,
وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً
”Dan kebaikan di akhirat” (QS. Al Baqoroh : 201), beliau berkata,”kebaikan di akhirat adalah surga”.
Inilah tafsir yang paling baik, karena kebaikan yang paling tinggi adalah ilmu yang bermanfaat dan amal yang shalih. (Miftah Daris Sa’adah 1/121).
Dan perlu Engkau ketahui, jika Engkau menuntut ilmu maka itu adalah tanda bahwa Allah menghendaki kebaikan untuk dirimu. Baik kebaikan di dunia ini, lebih-lebih kebaikan di akhirat kelak. Ka rena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين
“Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka Allah akan memahamkan dia dalam urusan agamanya” (HR. Bukhari nomor 71 dan Muslim nomor 1037).
Imam Ibnu Hajar Al Asqalani Asy Syafi’i, mengatakan,
وَمَفهوم الحديث أن من لم يتفقه في الدين أي يتعلم قواعد الإسلام وما يتصل بها من الفروع فقد حرم الخير
“Konteks hadits di atas menunjukkan bahwa seorang yang tidak memahami agama, dalam artian tidak mempelajari berbagai prinsip fundamental dalam agama Islam dan berbagai permasalahan cabang yang terkait dengannya, maka sungguh ia diharamkan untuk memperoleh kebaikan” (Fathul Baari 1/165).
Saudaraku …
Aku yakin Engkau pasti menginginkan kebahagiaan. Dan aku pun yakin bahwa Engkau pasti akan berbuat apa saja demi meraih kebahagiaan itu. Meskipun harus dengan mengorbankan apa saja termasuk mengeluarkan harta dalam jumlah yang sangat banyak. Dan tentu Engkau akan sangat bersedih jika hidupmu tidak bahagia.
Akan tetapi, aku ingin bertanya kemudian menjelaskan kepadamu,”Apakah kebahagiaan yang hakiki itu? Apakah definisi kebahagiaan menurut pandanganku?”
Imam Muhammad bin Abu Bakr Al Hambali rahimahullah berkata,
السعادة الحقيقية وهي سعادة نفسانية روحية قلبية وهي سعادة العلم النافع ثمرته فإنها هي الباقية على تقلب الأحوال والمصاحبة للعبد في جميع أسفاره وفي دوره الثلاثة أعني دار الدنيا ودار البرزخ ودار القرار
”Kebahagiaan yang hakiki adalah kebahagiaan jiwa, ruh, dan hati. Kebahagiaan itu tidak lain adalah kebahagiaan ilmu yang bermanfaat dan berbagai buahnya. Karena sesungguhnya itulah kebahagiaan yang abadi dalam seluruh keadaan. Kebahagiaan ilmulah yang menemani seorang hamba dalam seluruh perjalanan hidupnya di tiga negeri : negeri dunia, negeri barzakh (alam kubur), dan negeri akhirat”. (Miftah Daris Sa’adah 1/108).
Itulah kebahagiaanku. Aku pun yakin bahwa kebahagiaan itu pula yang akan membuat Engkau selalu tersenyum gembira. Apakah Engkau tidak menginginkan untuk meraih kebahagiaan itu?
Saudaraku…
Ilmu adalah sumber kehidupan dan cahaya penerang hidup bagi seorang hamba. Adapun kebodohan, ia adalah sumber kebinasaan dan kegelapan bagi dirinya. Semua kejelekan bersumber dari ketiadaan kehidupan dan cahaya. Dan semua kebaikan sumbernya adalah keberadaan cahaya dan kehidupan. Karena sesungguhnya dengan adanya cahaya  akan menyingkap hakekat segala sesuatu dan memperjelas tingkatan-tingkatannya. Dan kehidupan merupakan penentu sifat kesempurnaan, yang dengannya ucapan dan perbuatan bisa berfungsi sebagaimana mestinya (Al ’Ilmu, Fadluhu wa Syarafuhu, hal. 34).

Kebutuhan Terhadap Ilmu
Saudaraku…
Kebutuhan manusia kepada ilmu jauh lebih mendesak daripada kebutuhan badan terhadap makanan. Sebab badan hanya membutuhkan makanan dalam sehari sekali atau dua kali saja. Sedangkan kebutuhan manusia terhadap ilmu itu sebanyak bilangan tarikan nafas. Hal itu dikarenakan setiap tarikan nafasnya senantiasa membutuhkan keikutsertaan iman dan hikmah. Kalau pada suatu saat dia kehilangan iman atau hikmah dalam satu tarikan nafas saja, maka sesungguhnya dia telah berada di tepi jurang kehancuran. Padahal tidak ada jalan untuk tetap beriman dan bersikap hikmah kecuali dengan memahami ilmunya. Oleh sebab itu kebutuhan terhadapnya jauh lebih mendesak daripada kebutuhan diri terhadap makanan dan minuman (Al ’Ilmu, Fadluhu wa Syarafuhu, hal.91).

Ilmu adalah Makanan Hati
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Tidaklah berkumpul satu kaum di salah satu rumah Allah (masjid), mereka membaca Kitab Allah, dan saling mempelajarinya di antara mereka, melainkan turun atas mereka ketenangan, mereka diliputi rahmat, mereka dikelilingi oleh para Malaikat, dan Allah sebut mereka di hadapan makhluk yang di sisi-Nya” (HR. Muslim 8/71,).
Dalam hadits ini, Rasulullah menjelaskan bahwa Allah akan mengaruniakan ketenangan dan rahmat kepada orang-orang yang menuntut ilmu. Dan ketenangan itu diperoleh jika hati kita selalu hidup dan tidak pernah mati. Karena hati yang hidup akan selalu berdzikir kepada Allah, senantiasa mengingat kebesaran dan keagungan Allah serta selalu mengingat berbagai nikmat yang dikaruniakan oleh Allah. Hidupnya hati ini tidak lain adalah dengan ilmu. Dengan ilmu-lah kita menghidupkan hati-hati kita dari kematian.
Sebagian orang bijak berkata,”Tidakkah orang yang sakit itu, jika tidak diberi makan, minum, dan obat-obatan maka ia akan mati?” Orang-orang menjawab,”Betul”. Orang tersebut berkata lagi,”Maka demikian pula hati. Jika hati tidak diberi ilmu dan hikmah, maka dalam tiga hari hati itu akan mati”.
Sungguh benar apa yang dikatakan oleh orang bijak itu. Sesungguhnya ilmu itu adalah makanan, minuman, dan obat bagi hati. Kehidupan hati sangat tergantung kepadanya.
Jika ilmu telah menghilang dari hati, maka hati itu seperti mayit. Akan tetapi pemiliknya tidak menyadarinya. Sebagaimana orang mabuk yang telah hilang akalnya dan sebagaimana orang yang sangat ketakutan. Pada kondisi seperti itu, mereka tidak merasakan sakitnya luka. Namun, jika mereka telah sehat dan kembali pulih dari sakitnya, maka mereka akan merasakan sakitnya luka tersebut (Al ‘Ilmu, Fadhluhu wa Syarfuhu). Itulah ketenangan dan kedamaian hati yang sebenarnya. Jika Engkau tidak menuntut ilmu yang ada hanyalah kegelisahan dan kesedihan.

Teguran bagi Mereka yang Tidak Mau Tahu terhadap Perkara Agama
Saudaraku…
Janganlah Engkau tertipu dengan kesenangan duniawi. Apakah Engkau merasa minder di hadapan teman-temanmu karena Engkau tidak bisa menyaingi kekayaan mereka? Apakah Engkau tidak merasa takut di hadapan Allah jika Engkau tidak memahami agama-Nya? Marilah kita merenungkan sabda Nabi berikut,
إن الله يبغض كل جعظري جواظ سخاب في الأسواق جيفة بالليل حمار بالنهار عالم بالدنيا جاهل بالآخرة
“Sesungguhnya Allah membenci setiap orang yang ‘alim (pandai) dalam masalah duniawi, namun jahil (bodoh) terhadap masalah akhirat” (HR. Al Baihaqi dalam Al Kubra nomor 20593 dengan sanad yang shahih).
Allah ta’ala juga berfirman,
يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ (٧)
”Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.” (Ar Ruum: 7).
Imam Al Baghawi rahimahullah berkata,
أَمْرَ مَعَاشَهُمْ، كَيْفَ يَكْتَسِبُوْنَ وَيتجرون، وَمَتَى يَغْرُسُوْنَ وَيِزْرَعُوْنَ وَيَحْصُدُوْنَ، وَكَيْفَ يَبْنُوْنَ وَيَعِيْشُوْنَ وَهُمْ عَنِ الآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ سَاهُوْنَ عَنْهَا جَاهِلُوْنَ بِهَا، لاَ يَتَفَكَّرُوْنَ فِيْهَا وَلاَ يَعْمَلُوْنَ لَهَا
”Mereka tahu akan profesi mereka, bagaimana mereka bekerja, berdagang, kapan bercocok tanam dan memanen serta bagaimana membangun dan hidup. (Namun mereka) lalai, lupa dan bodoh terhadap kehidupan akhirat, tidak memikirkannya dan beramal untuk menyongsongnya” (Ma’alimut Tanzil 1/262).
Al Hasan Al Bashri rahimahullah berkata,
والله لبلغ من أحدهم بدنياه أن يقلب الدرهم على ظفره فيخبرك بوزنه
وما يحسن أن يصلي
”Demi Allah, salah seorang dari mereka telah mencapai keilmuan yang tinggi dalam hal dunia, di mana ia mampu memberitahukan kepada anda mengenai berat sebuah uang perak hanya dengan membalik uang tersebut pada ujung kukunya, sedangkan dirinya tidak becus dalam melaksanakan shalat (dikarenakan minimnya perhatian terhadap ilmu agama)” (Tafsir Ibnu Katsir 3/560).

lmu Syar’i, Jalan Termudah Menuju Surga
Kita tutup dialog ini dengan merenungkan bersama sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
من سلك طريقا يلتمس فيه علما سهل الله له به طريقا إلى الجنة
“Barangsiapa yang menempuh jalan untuk mendapatkan ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga” (HR. Muslim nomor ).
Jika ilmu agama itu jalan termudah untuk menggapai surga, maka cukuplah bagi kita pengetahuan terhadap agama ini sehingga kita menemui Rabb kita dengan keyakinan yang benar, tidak menyimpang, amal ibadah kita benar, dan terbebas dari segala bid’ah, insya Allah.
“Ya Allah, wafatkanlah kami dalam keadaaan beriman, rahmatilah kami ya Allah. Janganlah Engkau wafatkan kami dalam keadaaan memiliki aqidah yang menyimpang. Ya Allah, teguhkanlah kami di atas jalan ilmu, berdakwah kepadanya dan sabar dalam menjalani cobaan”. Amin.

Sumber : http://ikhwanmuslim.com/manajemen-hati/mari-berbincang-sejenak/comment-page-1#comment-5175

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar