Minggu, 14 Februari 2010

Ungkapan, Barang yang telah dibeli Tidak Boleh Dikemba-likan Atau Ditukar

Ungkapan, Barang yang telah dibeli Tidak Boleh Dikemba-likan Atau Ditukar, adalah Tidak Benar


Segala puji hanya untuk Allah semata, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi yang tiada nabi setelahnya, wa ba'du:
Al-Lajnah Ad-Da`imah Lil Buhûts Al-'llmiyyah wal-Ifta` telah mengkaji surat yang ditujukan kepada Samahatusy Syaikh, yang mulia, Mufti Umum. Surat tersebut dilayangkan oleh pengaju fatwa, bernama Dr. Abdul Muhsin ad-Dawud. Surat tersebut telah diteruskan kepada Al-Lajnah dari sekretariat umum Hai'ah Kibaril Ulama' (Persatuan Ulama-Ulama Besar), No.3577, tanggal 17-8-1415 H.

Yang bersangkutan mengajukan pertanyaan sebagai berikut:
Apa hukum syari’at terhadap tulisan berbunyi "Barang yang telah dibeli tidak boleh dikembalikan atau ditukar!" yang ditulis oleh sebagian pemilik pusat-pusat perbelanjaan pada kuintansi yang mereka berikan. Apakah syarat semacam ini boleh menurut syari’at? Dan apa pula nasehat yang mulia, samahatusy Syaikh seputar masalah ini?

Jawaban:

Setelah meneliti pertanyaan tersebut, maka Al-Lajnah mem-berikan jawaban bahwa menjual barang dengan syarat tidak boleh dikembalikan dan ditukar, tidak boleh hukumnya karena ia bukan syarat yang benar (shahih) karena mengandung hal yang merugikan, menyembunyikan hakikat yang sebenarnya dan karena tujuan si penjual dengan syarat seperti itu adalah ingin memaksa pembeli menerima barang tersebut sekalipun ia cacat. Apa yang disyaratkannya tersebut tidaklah dapat membebaskan dirinya (sehingga tidak bersalah, pent.) dari cacat-cacat yang ter-dapat di dalam barang tersebut karena bila ia memang cacat, maka si pembeli berhak menukarnya dengan barang yang lain yang tidak cacat atau si pembeli mengambil kembali harga barang yang cacat tersebut.

Di samping itu, juga dikarenakan harga dibayar penuh asal-kan barang tersebut bagus (tidak cacat) sedangkan bila si penjual mengambil harganya secara penuh padahal terdapat cacat, maka berarti dia telah mengambilnya dengan cara yang tidak haq.

Sebab lainnya, karena syari’at telah menempatkan posisi syarat Urfiy (yang telah dikenal secara adat/tradisi) seperti posisi syarat lafzhiy (yang bersandar kepada pengucapan/lafazh). Hal ini agar terhindar dari adanya cacat sehingga bila cacat tersebut ada, maka dia boleh mengembalikannya dalam rangka memposi-sikan syarat terhindarnya barang dari cacat yang berlaku secara tradisi/adat ke dalam posisi syarat keterhindarannya dari cacat, yang berlaku secara lafazh. Wa Billahit Tawfiq. Wa Shallallahu ala Nabiyyina Muhammad Wa Alihi Wa Shahbihi Wa Sallam.

(Al-Lajnah ad-Da`imah Lil Buhuts Al-'llmiyyah Wal-Ifta' )
www.alsofwah.or.id

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar