Sabtu, 10 September 2011

Mengambil Manfaat dari Ilmu

Ibnul Qoyyim Al Jauziyyah

Saya telah bertemu dengan banyak masyaikh dan urusan yang satu berbeda dengan lainnya, dan tingkatan ilmu mereka berbeda-beda. Dan yang keberadaannya paling bermanfaat bagiku adalah yang senantiasa mengamalkan ilmunya, walaupun ada orang lain yang ilmunya lebih tinggi dari mereka.




Saya telah bertemu dengan sekelompok ahli hadits yang menghapal & mengetahui banyak hadits, namun mereka berbuat ghibah dengan mengatasnamakan jarh wa ta’dil, mengambil bayaran uang dari meriwayatkan hadits, dan mereka tergesa-gesa dalam memberikan jawaban-jawaban, walaupun mereka salah, agar mereka tidak kehilangan status mereka.



Saya telah bertemu ‘Abdul Wahhaab Al-Anmaati, ia berada di atas manhaj salaf. Orang tidak akan mendengar beliau berbuat ghibah ataupun mengambil bayaran untuk mengajar hadits. Setiap kali saya membacakan hadits yang mengandung pelembut hati, ia selalu menangis. Saya masih sangat muda pada saat itu, (tetapi) tangisnya mempengaruhi hatiku. 



Saya telah bertemu Abu Mansur Al-Jawaaliqii, ia sangat pendiam, sangat berhati-hati akan apa yang dikatakannya, teliti dan ilmiah. Kadang-kadang ia ditanya, (dengan pertanyaan) yang kelihatan mudah; pertanyaan yang kita para pemuda akan tergesa-gesa untuk menjawabnya, tetapi ia akan menahan diri untuk menjawab sampai ia yakin. Ia terbiasa banyak puasa dan sering diam.



Karena itu, saya lebih mengambil manfaat dari dua orang di atas daripada orang lain, dan yang saya pahami dari sini adalah, ‘membimbing orang dengan perbuatan lebih berhikmah daripada dengan kata-kata’. Jadi demi Allah, seseorang harus mengamalkan apa yang ia ketahui karena ini merupakan dasar yang paling utama. Dan orang yang miskin, yang benar-benar miskin adalah seseorang yang menghabiskan umurnya untuk belajar apa yang tidak ia praktikkan, karena itu ia kehilangan kenikmatan dunia dan kebaikan akhirat, datang dalam keadaan bangkrut (di Hari Perhitungan) dengan bukti-bukti nyata yang memberatkan dirinya sendiri.





Taken from “Saydul-Khaatir” (138) by Imaam Ibnul-Qoyyim al-Jauziyyah, translation in English by Hishaam ibn Zayd (www.troid.org) adapted to Bahasa Indonesia by Tami for Jilbab Online (www.jilbab.or.id)

http://jilbab.or.id/archives/219-mengambil-manfaat-dari-ilmu/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar